Maple Love

Halo. Selamat berjumpa. Ketemu lagi deh dengan Cerpen si Tory. Berhubung ini bulan September dan di belahan bumi sebelah utara sedang mengalami musim gugur jadi tema-nya tentang musim gugur aja ya. Ya udah daripada kelamaan simak aja nih cerpen.

Maple Love

Pertengahan September di salah satu tempat di belahan bumi utara, matahari tak sepanas dulu, udara bertambah dingin, pepohonan mengubah warna daunnya menjadi merah kecoklatan, angin sibuk menerbangkan daun-daun layu yang membuat jalanan menjadi kotor, apel-apel yang telah matang menjatuhkan diri dari tangkainya, labu-labu di ladang berganti kulit menjadi jingga kecoklatan, para hewan sibuk mengumpulkan persediaan makanan untuk usim dingin, bebek-bebek liar mulai berpindah terbang ke selatan, dan pohon-pohon maple siap untuk diambil sirupnya karena musim gugur telah tiba.

Tiba saatnya penduduk desa Autumnfalls untuk mengambil sirup maple dari pohonnya. Kakek Gary adalah seorang pembuat sirup maple terlezat dari desa itu. Banyak penduduk dari luar kota yang menyukai sirup buatannya itu. Kakek Gary adalah orang yang rajin sekali. Setiap pagi dia selalu pergi ke hutan maple untuk mengambil sirup maple. Padahal udara pagi hari di musim gugur sangatlah dingin. Orang-orang pun berpikir lebih baik menghangatkan diri di perapian dan menunggu matahari naik ke atas untuk menghangatkan udara. Namun, Kakek Gary tetap bersemangat di udara yang dingin itu.

Akan tetapi dimana ada yang bagus pasti ada yang tidak suka. Karena semua orang di desa Autumnfalls berjualan sirup maple dan saingan terberat mereka adalah Kakek Gary. Semua orang memilih untuk bersaingan dengan sehat dengannya tapi salah satu dari mereka tidak mau. Dia sangat membenci Kakek Gary karena dagangannya warungnya selalu ramai. Dia bernama Florent. Ada saja perbuatan yang dia lakukan. Dia pernah merusak kios kakek, meracuni sirup kakek, dan hampir membuat rumah kakek terbakar. Tapi semua kejadian itu tidak diketahui oleh kakek jika pelakunya adalah Florent karena dia melakukan itu dengan menyuruh orang lain.

Kakek Gary mempunyai seorang cucu yang bernama Terence. Karena cucu yang satu-satunya Kakek Gary sangat menyanyanginya. Terence ini baru saja datang dari tempat perantauannya di kota Springbloom. Terence adalah anak yang tampan tapi pemalas. Begitu dia datang kerjanya di rumah hanyalah duduk-duduk santai di teras sambil memandangi anak perempuan Tuan Peter, Rosetta yang sering menyapu jalanan depan rumahnya yang tertutup oleh daun yang berguguran. Dia melihat Rosetta yang wajahnya tampak kelelahan dan membayangkan dia berada disana. Rupanya Terence menyukai Rosetta.

Di suatu siang hari yang sejuk Terence duduk di teras sambil menyeduh secangkir coklat panas. Seperti biasa dia memandangi Rosetta yang sedang menyapu jalanan dengan sapunya yang mungil. Di dalam hatinya dia ingin mendekati Rosetta tapi sebelum keinginan itu terwujud kakek memanggilnya untuk membantu menata botol-botol sirup untuk dijual.

“Terence, tolong bantu kakek menata botol-botol ini. Kau bawa ke kios depan kemusian kau tata sesuai ukurannya dan bila ada yang membeli tolong layani. Kakek begitu sibuk menuang sirup-sirup ini. Tolong kakek, ya,” pinta kakek. Meskipun kakek telah mengucapkan tiga kali kata ‘tolong’ itu tak akan mengubah sifat Terence. Dia hanya menjawab dengan santai,“Ah, Terence malas, Kek. Untuk apa capek-capek menjual sirup yang lengket itu. Mendingan Terence tiduran sambil menonton televisi.” Kemudian berjalan menuju kamar tengah dan menonton kartun di televisi. Kakek akhirnya memutuskan untuk mengisi dan menata sirup itu di kios sendirian. Dia bolak-balik lewat ruang tengah tapi Terence yang sedang asyik menonton menghiraukannya. Dalam hatinya dia berkata, “Dasar! Sudah tua masih saja berjualan sirup. Apa dia tidak kasihan dengan dirinya? Bukankah anak-anaknya yang merantau sudah mengiriminya uang setiap bulan?” kemudian menggeleng.

Kakek Gary berjalan dengan pelan bolak-balik dari kios ke dapur. Menata botol-botol sirup itu dengan rapi di kios depan rumahnya itu. Rosetta yang sedang menyengget apel di halaman rumahnya merasa kasihan melihat kakek kelelahan kemudian mendatangi kios dan, “Kek, kelihatannya kakek begitu lelah. Apa ada yang bisa Rosetta bantu, Kek?” tawar Rosetta. “Oh, anak pak Peter. Tentu saja kalau kau mau awasi kios ini dan tolong layani jika ada pembeli yang datang,” pinta kakek. “Baik, Kek. Memangnya anak laki-laki yang tadi duduk di depan rumah itu siapa?”

“Dia cucu Kakek dan pasti kau bertanya-tanya apakah dia sudah punya teman wanita sepertimu atau belum, iya kan?”

“Bukan begitu kakek. Kenapa dia tidak membantu kakek. Kurasa dia cukup mampu kalau hanya disuruh mondar-mandir membawa botol-botol ini.”

“Tidak. Dia sedang di … di … dapur. Sedang menuangkan sirup-sirup ke dalam botol. Iya,” bohong kakek. “Bukankah pekerjaan itu lebih ringan untuk kakek?”

“Iya. Ya. Dia sendiri yang meminta. Ya sudah kakek mau ka dapur lagi mau menuang maksud kakek mengambil botol lagi.” Kakek lalu masuk rumah dan Rosetta, “Dasar cucu tidak tahu diri. Kakek Gary kan begitu tua malah suruh bekerja berat seperti ini.” Saat Rosetta sedang membatinnya seorang pelanggan datang, “Nak, bisa saya dapat dua sirup ukuran sedang?”

“Oh, baik, Bu. Dua dollar. Ini. Silahkan.”

“Terima kasih. Ini uangnya.”

“Terima kasih kembali. Besok datang lagi ya.” Setelah pembeli itu pergi, Rosetta bertanya-tanya, “Kenapa kakek Gary begitu lama. Kan hanya mengambil sirup. Akan kuperiksa,” pikir Rosetta sambil menoleh kekanan dan kekiri di tepi jalan memastikan tidak ada orang yang mendekat untuk menyibukkannya. Rosetta berjalan masuk tapi sebelum dia meraih pintu dia mendengar televisi menyala dari ruang tengah kemudian dia mengintip dari jendela dan bertanya-tanya, “Apa kakek Gary sudah selesai? Bukankah seharusnya menjaga kios? Kenapa dia malah menoton televisi? Sejak kapan kakek Gary suka kartun?” Pertanyaan-pertanyaaan itu begitu mengganggu otak Rosetta dan dia berusaha lebih mendekat untuk melihat bahwa kakek Gary sedang duduk bersantai sambil menikmati kartun.

Akhirnya Rosetta sampai di daun jendela dan yang ia lihat sedang menonton kartun bukanlah yang dipikirkannya selama ini. Ternyata Terence yang sedang asyik menonton sambil menyeruput minuman dalam gelas dan saat itu juga Rosetta melihat kakek Gary begitu kerepotan membawa botol-botol sirup melewati Terence dan menghiraukan kakeknya. Begitu terkejutnya Rosetta berjalan mundur dan kakinya menginjak tanaman berduri. “Ouch!” teriak Rosetta dan kemudian dia kembali ke kios dengan hanya kaki kiri saja melompat-lompat. Terence yang mendengarnya langsung melihat apa yang terjadi di jendela dan melihat Rosetta sedang berlari dengan satu kaki menuju kios. Setelah Rosetta sampai dan duduk di kursi kios, kakek Gary keluar dari pintu dengan tergopoh-gopoh membawa botol-botol sirup tapi Rosetta pura-pura tidak tahu. Setelah sampai di kios, kakek berkata, “Sepertinya kamu tadi berteriak ada apa?”

“Tidak ada apa-apa kok, Kek? Aku hanya melihat kecoak tadi. Aku kaget. Oh, ya. Kakek kenapa lama sekali. Bukankah kakek cuma mengambil botol dan kemudian kembali lagi?”

“Tadi kakek ke kamar mandi sebentar,” dalih kakek. “Kumohon kakek ceritakan pada Rosetta yang sebenarnya. Apa cucu kakek tidak bisa menuang sirup itu? Sampai-sampai kakek yang harus menuangnya?”

“Darimana kau tahu kalau kakek yang menuang sirup?”

“Itu jari kakek ada sisa sirup yag melekat dan kalau kakek ke kamar mandi pasti sirup yang menempel itu sudah hilang.”

“Jadi, kakek ketahuan ya? Begini karena cucu kakek itu lahir di dalam keluarga yang kaya dia jadi anak yang pemalas tidak mau membantu kakek. Kakek pun sudah bersyukur dia mau mengunjungi kakek,” jelas kakek. “Oh, jadi begitu.”

Melihat Rosetta ada di kios, Terence kemudian memiliki ide untuk mendapatkan hati Rosetta dengan membantu kakek. Saat kakek kembali untuk menuang sirup ke dapur Terence kemudian mengikutinya dan, “Kek, bolehkah Terence bantu? Terence sudah tidak malas lagi kok,” ujar Terence. “Kalau begitu tolong bawakan botol-botol sirup ini ke kios depan.”

“Siap, Kek,” kata Terence sambil hormat. “Kek. Apakah Terence perlu melayani disana jika ada pembeli datang?”

“Tidak.Tidak perlu. Disana sudah ada Rosetta yang melakukannya.”

“Oh. Jadi namanya Rosetta. Maksudku Rosetta? Siapa dia?”

“Anak tetangga sebelah. Kenapa? Kau suka padanya?”

“Tidak.”

“Ngomong-ngomong dia masih singgel lho.”

“Waow. Maksudku terus kenapa?” percakapan diakhiri dengan Terence membawa selusin botol sirup Maple meninggalkan dapur.

Saat di kios Rosetta mendengar langkah kaki yang dia pikir itu kakek tetapi saat orang itu mendekat dia berkata, “Ini botol dari kakek,” dan Rosetta terkejut kemudian berbalik dan melihat sesosok pemuda yang tampan dengan gagah membawa botol sirup. Rosetta jadi gugup, “I… i… iya. Taruhlah disini.” Dalam pikirannya Rosetta, “Ya Tuhan. Tampan sekali cucu kakek ini. Berbeda sekali dengan waktu dia berada di ruang tamu melihat televisi.”

“Rosetta? Rosetta?” nada lembut pemuda itu memanggil kemudian Rosetta tersadar. “Ada yang mau membeli.”

“Oh. Iya … iya. Anda mau beli yang mana Tuan?”

“Yang kecil lima.”

“Baik. Dua dolar lima puluh sen.”

“Apa kau punya kembalian?” tanya Tuan pembeli dengan menunjukkan uang tiga dolar pada Rosetta. “Kembalian. Kembalian. Di mana tadi ku taruh lima puluh sen.”

“Ini Tuan silahkan,” tiba-tiba si cucu kakek memberikan lima puluh sen pada Tuan pembeli. Tuan yang kelihatannya sibuk itu kemudian pergi meninggakan Rosetta dan Terence. “Terima kasih …”

“Terence. Namaku Terence.”

“Tentu saja. Terima kasih Terence.” Rosetta ternyata masih gugup. Terence kemudian masuk rumah untuk mengambil botol lagi. Di dalam hati Rosetta terjadi perdebatan, “Jangan-jangan menyukainya. Dia itu pemalas. Tapi dia begitu tampan. Dia lelaki tertampan yang pernah aku lihat. Tapi bagaimana jika ayah tahu aku menyukai seorang pemalas. Cobalah beri dia kesempatan untuk berubah. Tapi ayah tak setuju jika aku berhubungan dengan orang yang tidak baik sepertinya.”

Saat Terence kembali Rosetta sedang melayani beberapa pembeli, melihat itu Terence langsung membantunya. Setelah keadaan menjadi sepi kembali tiba-tiba Rosetta mengajukan pertanyaan, “Jika aku boleh bertanya. Kenapa kau tiba-tiba membantu kakek? Bukankah tadi dirimu sedang bersantai-santai menonton kartun? Apa kau mau membantu kakek hanya karena ada aku?” Pertanyaan yang Rosetta tanyakan menurutnya adalah untuk mengetes apakah Terence bekerja dengan jujur namun untuk Terence itu adalah sebuah penghinaan karena Terence dianggap mau menolong karena untuk mendapatkan hati Rosetta dan kemudian dia, “Memangnya kenapa? Masih baik aku mau membantu kakek?”

“Tapi itu membantu dengan pamrih, kan? Kau hanya mau membantu jika ada aku. Seandainya aku tadi tidak membantu kakek kau tetap duduk di depan televisi seperti gorila gemuk dan membiarkan kakekmu kelelahan. Iya kan?” Terence hanya diam dan Rosetta melanjutkan bicaranya dengan berani dia menanyakan, “Jika kau bekerja hanya karena ada aku disini. Itu berarti kau mengharapkan sesuatu dariku, kan? Terence apa kau … kau … me …  me … menyukaiku?” Sebenarnya Terence ingin mengatakan ya tetapi pertanyaan Rosetta tadi yang pikirnya menghina dia malah jadi berkata, “Hah? Kau tidak salah bicara seperti itu. Aku membantu kakek karena disuruh olehnya.”

“Itu tidak mungkin. Pasti kakek sudah menyuruhmu sejak tadi sebelum aku membantunya.” “Terserah kau saja. Sekarang dengarkan! Kau tidak tahu? Aku ini orang kaya untuk apa aku menyukai gadis kampungan sepertimu lagipula di tempatku lebih banyak gadis yang lebih cantik darimu. Camkan ini perempuan desa. Kalau kau tidak mau ku bantu. Okay. Takkan ku bantu,” Terence dengan muka merah meninggalkan Rosetta dan masuk ke rumah. Kata-kata itu begitu menohok hati Rosetta. Setelah memastikan Terence benar-benar masuk rumah Rosetta sudah tak mampu membendung air matanya lagi. “Bodoh. Bodoh. Untuk apa aku menanyakan itu tadi.” Rosetta menyesali itu semua. Untung saja jalanan sedang sepi dan tak ada pembeli yang datang.

Di dapur kakek yang sedang menuang sirup endengar pintu ditutup keras-keras perasaannya tidak enak, “Terence kenapa kau begitu lama? Sudah menumpuk botol-botolnya.”

“Suruh saja anak itu mengambilnya,” teriak Terence dari ruang tengah. “Ada apa dengan anak itu. Kejap-kejap nak tolong, kejap-kejap marah tak jelas,” kakek Gary jadi berlogat Melayu. Di depan rumah Rosetta yang masih terisak tiba-tiba dikejutkan oleh pengunjung berkerudung hitam dan bercadar. Dia mau membeli tapi kemudian menuju belakang kios menarik paksa Rosetta dan mengobrak-abrik kios itu. Jika kau tahu itu adalah Florent yang begitu membenci dengan kakek Gary. “Tolong. Tolong. Kakek. Kiosmu, Kek. Tolong.” Rosetta berteriak tapi tak ada yang menyahut karena sore yang sepi di musim gugur orang-orang lebih suka melakukan hal-hal seperti Terence atau mungkin seperti yang sedang dilakukan Terence. Tiba-tiba terbesit di benak Rosetta untuk, “Terence. Terence. Kios kakek. Tolong. Tolong,” tiba-tiba suara Rosetta parau dan dia kehilangan kesadarannya. Terence yang masih marah dengan Rosetta kemudian melihat apa yang terjadi. Rosetta yang pingsan dimasukkan ke gerobak kemudian ditarik oleh kuda oleh seseorang yang berpakaian hitam.

Terence yang melihatnya kemudian mengejar gerobak itu. Karena ditarik kuda kemudian dia menggunakan sketbord miliknya untuk mengejar penjahat itu atau Rosetta. Lima belas menit dia sampai di gudang tua dan melihat penjahat itu memasukkan Rosetta kesana. Terence memilih lewat jalan belakang. Sementara itu di dalam gudang penyimpanan sirup maple milik seseorang Rosetta diikat ke sebuah kursi dan kemudian penjahat itu memperlihatkan wajahnya. “Flo … Flo … Florent? Jadi kau yang melakukan semua ini? Kenapa?” Rosetta terperangah. “Ya. Aku yang melakukan dari membakar kios itu karena aku benci dengannya. Dia selalu mendapat pembeli yang banyak padahal dia sudah tua tetapi masih tetap saja berjualan. Dia saingan terberatku. Tapi aku sekarang sudah merusaknya dan sudah menyanderamu.”

“Tak percaya aku kau melakukan ini semua.”

“Biarkan kakek tua itu khawatir dan takkan berjualan lagi,” ujar Florent sembari duduk di depan tumpukan tong berisi sirup-sirup maple tiba-tiba tong-tong itu berjatuhan dan isinya mengenai tubuh Florent dan menjadi lengket. “Terence?” kaget Rosetta. “Ayo kita tak punya waktu lagi. Dia bisa menangkap kita berdua. Ayo lari,” ajak Terence setelah melepas ikatan Rosetta. “Aku tak bisa Terence. Kakiku menginjak duri tadi.”

“Aduh. Kau ini,” kemudian Terence menggendong Rosetta dan berlari. Menurutnya itulah momen yang diimpi-impikannya begitu juga dengan Rosetta saat Terence mulai berlari dia mempererat pegangannya. “Dasar anak kurang ajar. Aku jadi lengket. Awas kau akan kukejar,” teriak Florent yang lengket. Namun sebelum keinginannya dilakukannya satu tong lagi penuh berisi sirup maple menjatuhinya dan dia takkan sadar hingga pemilik gudang datang  dan menganggap kalau Florent telah merusak gudangnya dan membawanya pada polisi.

Di tengah jalan pulang Rosetta, “Terima kasih, Terence,”

“Iya. Sama-sama.”

“Jadi kau mendengar teriakanku?”

“Tentu saja suaramu melengking seperti itu.” Setelah sampai di rumah mereka berdua menceritakan semua yang terjadi dan kakek terkejut. Kakek kemudian mengobati kaki Rosetta dan Terence mengambilkan sirup maple untuk mereka berdua. “Biar kakek mengambil sirup di dapur saja itu untukmu,” ucap kakek Gary lalu mengedipkan mata pada Terence dan pergi ke dapur. “Minumlah sirup kakek.”

“Tentu saja. Ini sangat enak,” kata Rosetta sambil menyeruput sirup yang lengket itu dan berkata lagi, “Sekali lagi terima kasih. Maaf mungkin aku akan membalas suatu saat nanti.”

“Kau tidak perlu melakukannya.” Terence jadi sok kul. Kemudian Rosetta menyuruh Terence mendekatkan telinganya ke mulutnya. Terence berpikir Rosetta akan membisikkan sesuatu tapi dugaannya salah. Tiba-tiba saat telinga Terence hampir sedekat yang kau bayangkan dengan mulut Rosetta kemudian itu terjadi. Rosetta mengecup pipi kanan Terence dan berkata, “Maaf. Hanya itu yang dapat kulakukan. Terima kasih, ya Terence.” Spontan muka Terence memerah kemudian dia berlari ke kamar sambil berteriak-teriak seperti kucing yang baru mendapatkan pasangannya. Rosetta yang melihatnya hanya tertawa kecil dengan muka yang memerah juga. Lima menit kemudian Terence keluar dari kamar dan mukanya tidak nerah lagi dan berkata, “Sudah kubilang kau tidak perlu membalasnya. Tapi itu benar-benar indah. Aku juga mau.” Terence lalu memajukan bibirnya ke muka Rosetta tapi malah mengenai botol sirup yang sedang dipegang Rosetta. Tentu saja Rosetta sengaja melakukannya itu lebih baik daripada Rosetta menampar Terence. “Huh. Wanita memang aneh mereka mau melakukan sesuatu pada laki-laki tapi kalau di balas mereka malah tidak mau. Dasar aneh.”

Tiba-tiba Terence berada di depan bawah Rosetta seperti mau melamarnya dan berkata, “Rosetta maukah kau?” pinta Terence dengan mupeng. “Hah? Menikah?” Rosetta gelagapan. “Bukan. Agak dibawahnya.”

“Boleh asal kau mau melakukan syaratku.”

“Apa saja akan kulakukan.” Rosetta agak berpikir dan kemudian, “Aha!”  Tidak berapa lama kemudian keduanya membantu kakek Gary. Roseta mengumpulkan botol-botol sirup dan Terence merapikan kios yang diobrak-abrik oleh Florent. Kakek Gary sangat senang cucunya sekarang jadi tidak pemalas lagi. Rupanya syarat yang diberikan oleh Rosetta adalah Terence harus menjadi anak yang rajin. Setelah syarat itu terpenuhi akhirnya mereka jadi. Ya mereka jadi. Jadi apapun seperti yang kau pikirkan di benakmu. Selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s