To – mo – da – chi

Jika kau iri padaku maka kau salah. Justru malah aku yang iri padamu. Kejeniusan ini tidaklah penting. Yang lebih penting adalah… seorang … Seorang teman. Seseorang yang selalu meramaikan harimu. Seseorang yang selalu menjauhkanmu dari kesepian. Seseorang yang punya begitu banyak topik untuk dibicarakan. Dari sepakbola hingga konser artis idola. Kau itu lebih beruntung. Kau punya seseorang di sisimu. Yang selalu kau dapat jadikan tempat bercurah. Kau begitu mudahnya berteman. Siapa saja kau mau berkenalan. Tua. Muda. Pintar. Bodoh. Rupawan. Buruk rupa. Semuanya. Aku kerap melihatmu di kelilingi oleh mereka. Kau begitu senang dan menikmatinya. Dan aku iri. Aku yang tak punya seorang pun untuk ku ajak bicara. Aku yang merasa sendiri disini di dunia ini. Oke. Aku terlahirkan dengan kejeniusan tapi tidak dengan kepercayadirian. Aku selalu iri melihat orang-orang sekitarku. Berjalan di antara mereka yang punya seseorang untuk berbicara satu sama lain. Mereka begitu mudahnya mendapatkan seorang teman. Sedangkan aku. Aku hanya menjadi orang asing yang diabaikan. Aku sendiri hanya bisa melihat dan mendengar mereka. Tanpa ikut berbicara. Aku jadi bertanya-tanya. Apakah ini takdirku? Untuk sendirian selama aku tinggal di bumi ini. Apakah Tuhan telah menggantikan teman bagiku dengan kejeniusan ini? Kalau begini lebih baik aku tidak tahu apa-apa tapi aku dikelilingi oleh orang yang peduli padaku dan menganggap aku ada. Dan untuk menginkarinya aku malah sering berbicara dengan benda mati. Aku malah mencurahkan isi hati ini pada boneka, bantal, cermin, dan benda aneh lainnya. Aku juga sering berbicara pada sesuatu yang tak mengerti apa yang aku bicarakan. Kucing, lebah, bunga, pohon. Itu semua membuat orang-orang menjauhiku. Padahal aku hanya butuh seorang teman. Aku sangat senang jika satu orang saja bisa menyelamatkanku dari kesepian ini. Seseorang. Tolonglah aku. Seandainya kejeniusan ini dapat ditukar aku akan memberikannya pada siapapun yang mau memberiku seorang teman. Tak perlu yang aneh-aneh. Asal dia selalu ada untukku dan selalu mengerti apa yang aku rasakan. Bukannya teman yang lekang oleh waktu. Yang hanya membutuhkan kejeniusanku dan meninggalkanku saat dia tak butuh lagi. Teman macam apa itu? Itulah yang terjadi padaku. Saat orang-orang membutuhkanku aku membantu mereka dengan kejeniusan ini tetapi setelah mereka sukses dengan aku dibelakangnya. Memori denganku sudah terhapus. Dan aku dilupakan. Lagi. Untuk sekian kali. Dan ketika dia datang lagi. Bodohnya aku. Aku malah membantunya dan dia pergi lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi. Terus berputar-putar seperti itu. Jadi kau jangan lagi iri pada kejeniusanku ini. Aku tak butuh ini. Aku hanya butuh itu tadi. Sesederhana itu. Apakah aku harus pandai berolahraga untuk mendapat teman? Apa aku harus tahu jadwal manggung suatu band untuk mendapat seorang teman? Apa aku harus tahu gosip terbaru untuk mendapat teman? Apa aku harus tahu semua atlet sepakbola untuk mendapat seorang teman? Apa aku harus mengerti otomotif untuk mendapat seorang teman? Apa aku harus punya produk tupperware terbaru untuk mendapat seorang teman? Apa aku harus terkenal untuk mendapat seorang teman? Apa aku harus menjadi orang lain untuk mendapat seorang teman? Apa aku … apa aku harus … apa aku … Aaarrghhh. Sesukar itukah? Dan akhirnya kuputuskan untuk mencurahkan isi ini yang hampir meledak pada blogku yang entah pernah dibuka oleh orang atau tidak. Siapa yang mau buka? Teman saja aku tidak punya. Aku terlalu bangga, ya? Ya sudahlah. Tetaplah menjadi postingan yang takkan diketahui oleh orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s